Jumat, 08 Juni 2012

Pemerolehan Bahasa Kedua: Prinsip, Teori and Praktek


Pemerolehan bahasa kedua memiliki kesinambungan dengan pemerolehan bahasa pertama. Istilah pemerolehan bahasa kedua adalah pemerolehan yang bermula pada usia 3 atau 4 tahun.  Pemerolehan bahasa kedua merupakan hal yang penting bagi tiap individu untuk bisa berinteraksi dengan baik di lingkungannya. Bagi sebagian besar anak Indonesia, bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau ketiga.  Pengenalan/ penguasaan bahasa Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.  Proses pemerolehan terjadi secara alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau teman sebaya, tanpa bimbingan.

   A.    Prinsip
Menurut Barcroft terdapat lima prinsip dalam pemerolehan bahasa kedua, diantaranya:

a.         Present new words frequently and repeatedly in input.
       The more frequently language learners are exposed to foreign vocabulary; the more likely they are to remember it. Studies suggest that most learners need between 5-16 'meetings' with a word in order to retain it. Every word and phrase must be correctly identified multiple times to obtain the highest score, while the variety of exercises and activities prevents this repetition from being boring.

b.         Use meaning-bearing comprehensible input when presenting new words.
In order for learners to successfully make the association between a foreign language word and its meaning, that meaning must be conveyed in a comprehensible manner. One method for making foreign terms comprehensible and thus promoting vocabulary learning is to present each word in a variety of ways.

c.         Limit forced output during the initial stages of learning new words.
Forcing language learners to rush into sentence formation can interfere with vocabulary learning during the beginning stages of acquiring a new language. Instead, learners should be given time to absorb the meanings of individual words at their own pace before being required to use them in a larger context. Language learners who take that time are far more likely to use the words correctly when they do choose to form sentences.

d.         Limit forced semantic elaboration during the initial stages of learning new words.
In addition to not forcing beginning language learners to immediately produce whole sentences, a vocabulary program should also avoid other kinds of elaboration that might produce negative effects on the learning of new words. Some learners may find it distracting or confusing if they are asked to perform other tasks at the same time that they are trying to commit new words to memory.

e.         Progress from less demanding to more demanding vocabulary-related activities.
Vocabulary learning is most effective when learners start off with a small group of words, then gradually add more terms as the first ones are mastered.

Kesimpulannya adalah pada saat anak-anak memperoleh kosakata baru yang masih belum mereka kenal, kata tersebut harus sering dan diberikan secara berulang-ulang supaya masuk ke dalam memori jangka panjang mereka. Hal tersebut dimaksudkan supaya mereka dapat mengingat dan menguasai lebih banyak kata yang masih terdengar asing.

   B.     Teori
Bahasa kedua dapat didefinisikan berdasarkan urutan, yakni bahasa yang diperoleh atau dipelajari setelah anak menguasai bahasa pertama (B1) atau bahasa ibu. Pemerolehan bahasa, sebagaimana pembelajaran bahasa, pun dapat dilihat dari beberapa teori, yakni teori akulturasi, teori akomodasi, teori wacana, teori monitor, teori kompetensi, teori hipotesis universal, dan teori neurofungsional.
1.         Teori Akulturasi
Akulturasi adalah proses penyesuaian diri terhadap kebudayaan yang baru (Brown, 1987:129). Teori ini memandang bahasa sebagai ekspresi budaya yang paling nyata dan dapat diamati dan bahwa proses pemerolehan baru akan terlihat dari cara saling memandang antara masyarakat B1 dan masyarakat B2. Walaupun mungkin tidak begitu tepat, teori ini dapat dipergunakan untuk menjelaskan bahwa proses pemerolehan B2 telah dimulai ketika anak mulai dapat menyesuaikan dirinya terhadap kebudayaan B2, seperti penggunakan kata sapaan, nada suara, pilihan kata, dan aturan-aturan yang lain. Dalam teori ini, jarak sosial dan jarak psikologis anak sangat menentukan keberhasilan pemerolehan.

2.         Teori Akomodasi
Teori memandang B1 dan B2 misalnya, sebagai dua kelompok yang berbeda. Teori ini berusaha menjelaskan bahwa hubungan antara dua kelompok itu dinamis.

3.         Teori Wacana
Teori ini sangat sesuai untuk diterapkan dalam konteks pembicaraan ini. Pemerolehan bahasa dilihat dari segi bagaimana cara anak menemukan makna potensial bahasa melalui keikutsertaannya dalam komunikasi. Cherry (via Ellis, 1986:259) menekankan pentingnya komunikasi sebagai upaya pengembangan kaidah struktur bahasa.

4.         Teori Monitor
Teori dari Krashen (1977) ini memandang pemerolehan bahasa sebagai proses konstruktif kreatif. Monitor adalah alat yang digunakan anak untuk menyunting performansi (penampilan verbal) berbahasanya. Monitor ini bekerja menggunakan kompetensi yang”dipelajari”.

5.         Teori Kompetensi Variabel
Teori ini melihat bahwa pemerolehan B2 dapat direfleksikan dan bagaimana bahasa itu digunakan. Produk bahasa terdiri atas produk terencana (seperti menirukan cerita atau dialog) dan tidak terencana (seperti percakapan sehari-hari).

6.         Teori Hipotesis Universal
Teori ini berkeyakinan bahwa terdapat kesemestaan linguistik yang menentukan jalannya pemerolehan B2.

7.         Teori Neurofungsional
Pemerolehan bahasa berkaitan erat dengan sistem syaraf, terutama area Broca (area ekspresif verbal) dan Wernicke (area komprehensi). Meskipun demikian, area asosiasi, visualisasi, dan nada tuturan juga berperan. Dengan demikian, pemerolehan bahasa sebenarnya juga melibatkan otak kanak dan kiri.

Kesimpulannya adalah bahasa merupakan sumber ekspresi budaya yang paling nyata dan dapat diamati dalam proses pemerolehan bahasa. Proses pemerolehan bahasa telah dimulai ketika anak mulai dapat menyesuaikan dirinya terhadap kebudayaan bahasa, seperti penggunakan kata sapaan, nada suara, pilihan kata, dan aturan-aturan yang lain.

   C.     Praktek
Praktek dalam pemerolehan bahasa kedua, dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang ada, diantaranya:

a.       The Grammar Translation Approach
Pendekatan ini dulunya dilakukan untuk mengajarkan bahasa latin, namun berikutnya digunakan untuk mengajarkan berbagai macam bahasa. Guru yang menggunakan pendekatan ini mengajarkan bahasa kedua dengan bahasa pertama (mother tongue). Bahasa target hanya digunakan beberapa kali saja. Daftar kosakata menjadi menu utama yang harus dihafal oleh peserta didik, lalu guru mengelaborasinya dengan grammar. Biasanya bahan yang diambil untuk pembahasan grammar adalah dari teks-teks yang sulit. Peserta didik lebih memfokuskan diri kepada analisis kalimat dibandingkan kepada arti dalam teks tersebut.Cara melatih pemahaman peserta dalam menggunakan bahasa kedua adalah melalui penerjemahan (translation) per-kalimat. Pronounciation dalam pendekatan ini tidak begitu ditekankan.

b.      The Direct Approach
Kemunculan pendekatan ini sebagai respon dari The Grammar Translation Approach yang dipandang kurang lengkap dalam proses pengajaran bahasa kedua. Dalam The Direct Approach, guru hanya menggunakan bahasa kedua yang diajarkan saja sebagai pengantar. Bahasa pertama tidak digunakan di dalam kelas. Guru biasanya mengawali pembelajaran dengan melakukan percakapan dan memperlihatkan gambar. Disamping itu, grammar diajarkan secara terintegral diambil dari ekspresi bahasa yang sedang dibicarakan. Teks tidak dianalisis secara grammar, melainkan secara arti. Pemahaman budaya diperkenalkan pula sebagai bagian yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua.


c.        The Reading Approach
Pendekatan ini lebih ditujukan untuk kepentingan akademis, atau dengan kata lain untuk tujuan tertentu. Selain itu, The Reading Approach lebih menekankan kepada pemberdayaan kemampuan reading para peserta didik. Di samping, untuk melacak sejarah bagaimana bahasa tersebut digunakan. Grammar diajarkan saat memang berhubungan dan diperlukan untuk memahami isi teks yang sedang di baca, selain itu kefasihan (fluency) dalam membaca menjadi salah satu faktor penting yang diajarkan. Kemampuan pronounciation dan speaking khususnya dalam percakapan tidak ditekankan. Sebaliknya, daftar kosakata berdasarkan level dan gradasi kesulitannya diberikan kepada peserta didik untuk dihapalkan. Tujuannya agar peserta didik dengan waktu tertentu dapat memiliki pembendaharaan kata yang banyak, sehingga ia dapat dengan mudah memahami segala macam jenis teks.

d.      The Audiolingual Method
Jenis pendekatan ini digunakan berdasarkan prinsip-prinsip teori behavioristik. Selain itu, pendekatan ini banyak mengadaptasi direct approach dan sebagai respon atas kurangnya pengajaran speaking dalam reading approach. Guru menyampaikan materi baru dengan cara berdialog. Pengingatan (memorization), dan bermain mimik (mimicry) menjadi salah satu teknik utama dalam pendekatan ini. Grammar diajarkan secara bertahap dan berulang, sebagai proses penguatan, di samping itu pengajaran grammar diajarkan secara terintegral berdasarkan topik yang sedang dibahas.

e.       Community Language Learning
Pendekatan jenis ini agak berbeda dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya. Community language learning lebih ditujukan untuk menghilangkan kecemasan atau ketakutan (anxiety) peserta didik saat mempelajari bahasa kedua. Konsekuensinya, pendekatan tersebut lebih menekankan ke arah bimbingan konseling daripada pengajaran biasa. Oleh karena itu, guru lebih berposisi sebagai pembimbing yang melatih peserta didiknya.

f.       The Silent Way
Pendekatan jenis ini digunakan agar peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran di dalam kelas. Guru lebih terkonsentrasi dalam mencermati bagaimana peserta didik berucap dan bagaimana mereka mengucapkan ekspresiekspresi tersebut. Guru pun berupaya agar peserta didik mampu mengucapkan berbagai macam kata dengan cara memproduksi kata yang benar, di samping itu untuk melatih spontanitas penggunaan bahasa kedua dalam situasi apapun.

g.      Functional-Notional Approach
Metode ini merupakan bagian dari payung pendekatan komunikatif. Namun, functional-notional approach ini menekankan pada pengorganisasian silabus bahasa. Penekanannya adalah untuk membagi konsep global bahasa ke dalam unit-unit analisis menurut situasi komunikasi yang biasa digunakan oleh penutur bahasa. Pengajaran dibagi ke dalam beberapa elemen seperti kata benda, kata ganti, kata kerja, preposisi, konjungsi, kata ganti atau kata sifat. Situasi berpengaruh pula terhadap variasi bahasa seperti dialek, formal dan informal.

h.      Total Physical Response
James J. Asher mendefinisikan Total Physical Response (TPR) sebagai satu pendekatan yang mengombinasikan informasi dan keahlian melalui kegunaan sistem sensor kinestatis. Kombinasi keahlian ini memperbolehkan peserta didik untuk mengasimilasikan informasi secara cepat. Hasilnya adalah membawa kepada tingkat motivasi peserta didik.

Kesimpulannya adalah pemahaman bahasa lisan sebelum mengembangkan keahlian berbicara, menekankan terhadap transfer informasi komunikasi. Peserta didik tidak dipaksa untuk berkata, namun dikondisikan untuk siap berbicara saat peserta didik merasakan nyaman dan percaya diri dalam memahami dan memproduksi bahasa. Beberapa teknik dapat dilakukan oleh guru, seperti guru memperagakan sendiri beberapa ekspresi yang diajarkan. Guru meminta peserta didik untuk mengikutinya. Guru meminta peserta didik yang memeragakan sendiri. Guru dan siswa bermain peran secara bergantian. Guru dan peserta didik dapat memperluas produksi kalimat yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Don't Forget to Give Me Your Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...