Kamis, 02 Februari 2012

Pembahasan Analisis Novel Belenggu karya Armijn Pane


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi. Dengan komunikasi manusia dapat bertukar pikiran baik secara lisan maupun tertulis. Salah satu bentuk komunikasi tertulis adalah karangan, karena dengan sebuah karangan dapat membuat seorang pembaca mengetahui maksud tujuan seorang penulis.
Manusia sebagai mahluk sosisal memerlukan komunikasi untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam komunikasi terjadi pertukaran informasi dari satu pihak kepada pihak lain melalui sarana tertentu. Salah satu sarana komunikasi yang telah dekat dengan kehidupan kita adalah komunikasi tidak langsung yang berupa komunikasi tulis. Salah satu komunikasi tulis adalah sastra. Sastra terbagi dalam beberapa genre sastra, salah satunya adalah prosa fiksi. Prosa fiksi adalah cerita rekaan yang timbul dari imajinasi para pengarangnya.
Kegiatan mengapresiasi sastra adalah suatu kegiatan  menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepeekaan pikiran kritis, dan kepekaan peraasaan yang baik terhadap karya sastra. Dalam mengapresiasi karya sastra harus dilakukan beberapa pendekatan agar kita dapat dengan mudah mengapresiasi bahkan mengaanlisis karya sastra yang dibaca. Mengapresiasi sastra dilakukan karena pembaca memiliki tujuan tertentu, apakah hanya untuk kepentingan pribadi atau pun untuk hal-hal yang lain. Mengapresiasi satra sangat memberikan manfaat bagi para pembacanya.
Salah satu karya sastra yang biasanya diapresiasi adalah novel. Novel merupakan cerita fiksi yang melukiskan kronik kehidupan tokoh-tokoh yang rinci dan mendalam. Novel terdiri atas berbagai ragam didasarkan pada isi novel tersebut.
Dalam suatu prosa fiksi terdapat unsur intrinsik yang terdiri atas lapis bentuk dan lapis makna. Lapis bentuk disebut juga sebagai struktur dalam dan lapis makna disebut sebagai struktur luar. Jika kita telah mampu mengapresiasi, maka kita akan bisa menganalisis unsur-unsur intrinsiknya.
Novel Belenggu karya Armijn Pane merupakan salah satu novel yang termasuk roman psikologis karena menitikberatkan pada analisis jiwa dari masing-masing pelakunya.
Berdasarkan kenyataan di atas, penulis tertarik untuk menganalisis sebuah novel yang berjudul Belenggu karya Armijn Pane. Pembahasan tersebut penulis wujudkan dalam sebuah makalah yang berjudul “Analisis Novel Belenggu karya Armijn Pane.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pemikiran yang diungkapkan penulis dalam latar belakang, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah hakikat pembelajaran apresiasi sastra?
2.      Bagaimanakah hakikat apresiasi?
3.      Apa saja hakikat unsur intrinsik novel atau roman?
4.      Bagaimanakah lapis bentuk atau struktur dalam prosa fiksi?
5.      Bagaimanakahlapis makna dalam novel Belenggu karya Armijn Pane?
6.      Bagaimanakah analisis unsur intrinsik novel Belenggu karya Armijn Pane sebagai alternatif bahan pembelajaran di sekolahan?

C.    Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hal-hal sebagi berikut:
1.      Hakikat pembelajaran apresiasi sastra?
2.      Hakikat apresiasi?
3.      Hakikat unsur intrinsik novel atau roman?
4.      Lapis bentuk atau struktur dalam prosa fiksi?
5.      Lapis makna dalam novel Belenggu karya Armijn Pane?
6.      Analisis unsur intrinsik novel Belenggu karya Armijn Pane sebagai alternatif bahan pembelajaran di sekolahan?



D.    Kegunaan Makalah
Makalah ini disusundengan harapan memiliki kegunan yang bermanfaat bagi penulis maupun pembaca, khususnya kalangan umum dan mahasiswa. Secara ringkas makalah ini mempunyai beberapa kegunaan baik secara praktis maupun secara toretis.
Ditinjau dari kegunan secara praktis makalah ini diharapkan berguna bagi penulis sebagai wahana menambah wawasan ilmu pengetahuan terutama tentang analisis novel yang berjudul Belenggu karya Armijn Pane. Sedangkan kegunaan secara teoretis, penyusunan makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan di dalam pengembangan kesusastraan bagi kalangan pelajar maupun mahasiswa.


BAB II
KAJIAN TEORETIS

A.    Hakikat Pembelajaran Apresiasi Sastra
1.      Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Hakikat mata pelajaran bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:317) bahwa pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun secara tertulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra kesastraan manusia indonesia. Hal tersebut penulis memaknai bahwa belajar bahasa adalah belajar menghargai nilai-nilai kemanusiaannya.
            Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:260) bahwa standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional dan global.
            Selanjutnya, dalm Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:260) dinyatakan bahwa denagn standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia diharapkan:
a.       Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai kemampuan, kebutuhan dan minatnya serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsa sendiri.
b.      Guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan beraneka ragam kegiatan berbahasa dan sumber belajar.
c.       Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sosial dan kemampuan siswanya.
d.      Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program di sekolah.
e.       Sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia.
f.       Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah.
Standar kompetensi merupakan kerangka mata pelajaran bahasa Indonesia yang berisi seperangkat kompetrnsi yang harus dimiliki dan dicapai oleh siswa pada setiap tingkatan. Klerangka itu terdiri atas empat kompetensi utama yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan materi pokok.
Lebih rinci dinyatakan dalam kurikulum 2004 (2004:11) bahwa
Kompetensi dasar merupakan urutan yang memadai atas kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi lisan (mendengarkan dan berbicara) dan tulis (membaca dan menulis) sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, serta mengapresiasi karya sastra. Kompetensi ini harus dimiliki dan dikembangkan secara maju dan berkelanjutan seiring dengan perkembangan siswa untuk mahir berkomunikasi dan memecahkan masalah. Kompetensi dasar ini di capai melalui proses pemahiran yang dilatihkan dan dialami.

     Indikator merupakan uraian spesifik dari kompetensi yang harus dikuasai siswa pada jenjang tertentu yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran.
     Dinyatakan pula dalam kurikulum 2004 bahwa standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia SMA dan MA dinyatakan akan sebagai berikut :
a.       Berdaya tahan dalam berkonsenterasi mendengarkan berbagai konteks sampai dengan seratus dua puluh menit dan mampu memahami dan peka terhadap gagasan, pandangan, dan perasaan orang lain secara lengkap dalam uraian.Khotbah, pidato, ceramah, dialog, dan film serta mampu memberikan pendapat dan perhatian.
b.      Menyampaikan ceramah, berdiskusi dalam seminar, meyakinkan orang lain, memberikan petunjuk, menjelaskan suatu proses secara rinci berbagai peristiwa, mengkritik, dan berekspresi dalam berbagai keperluan dan konteks.
c.       Membaca berbagai ragam teks, menganalisis informasi dan gagasan, memberikan komentar, menyeleksi, dan memsistensikan informasi dari berbagai sumber.
d.      Menulis karangan fiksi dan nonfiksi dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif untuk menimbulkan efek dan hasil tertentu.
e.       Mengapresiasi sastra melalui kegiatan mendengarkan, menonton, membaca dan melisankan hasil sastra berupa puisi, cerita pendek, novel, drama, memahami dan menggunakan pengertian teknis hasil kesusasteraan dan sejarah sastra untuk menjelaskan, meresensi, menilai, dan menganalisis hasil sastra, memerankan drama, menulis karya cipta sastra berupa puisi, cerita pendek, novel, dan drama (Depdiknas, 2004 : 4).

2.      Kompetensi Dasar dan Indikator
            Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:267) dinyatakan bahwa kompetensi dasarnya adlah (1) menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia, (2) menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia.
            Kompetensi dasar tersebut penulis jabarkan menjadi indikator yang harus dicapai siswa yaitu (1) dapat menemukan unsur-unsur intrinsik dan ektrinsik novel Indonesia, (2) dapat menganalisis unsur-unsur intrinsik dan akstrinsik novel Indonesia.  


B.  Hakikat Apresiasi
1.  Pengertian Apresiasi Sastra
Aminuddin (2004:34) menyatakan bahwa istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Selanjutnya Aminuddin menguti pandapat Gove (2004:34) bahwa “istilah apresiasi mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.” Pendapat Squire dan Taba dikutip Aminudin (2004:32) bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluatif.   
Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik-buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai, serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
S. Effendi (L.T. Tjahjono:17)  menyebutkan bahwa ‘apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra dengsan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan kepekaan pikiran kritis dan kepekaan yang baik terhadap karya sastra.’ Mengapresiasi sastra berarti menanggapi sastra dengan kemempuan efektif yang di satu pihak peka terhadap nilai-nilai yang terkandung pada karya yang bersangkutan, baik nnag tersirat maupun ynag tersurat dalam kerangka tematik ynag mendasarinya. Di lain pihak, kepekaan tanggapan tersebut berupaya memahami pola tata nilai ynag diperolehnya dari bacaan di dalam proporsi sesuai dengan konteks persoalnnya.
“Kegiatan apresiasi sastra bukanlah kegiatan tunggal, melainkan sejumlah kegiatan ynag saling berhubungan.” (Titin Kusmini & Yunus Abidin, :11). Apresiasi yang dilakukan oleh seseorang membentuk pengalaman orang itu berkenaan dengan sastra. Pengalaman dengan sastra itu menimbulkan perubahan dan pengaruh tingkah laku orang itu. Jadi, kegiatan apresiasi adalah kegiatan mengalami berupa memperhatikan, meminati, bersikap,  membiasakan diri  dan manampilkan diri berkenaan dengan sastra. Tujuannya yaitu untuk mengenal, memahami, dan menikmati nilai yang terkandung dalam sastra, sehingga sebagai hasilnya terjadi perubahan atau penguatan pada tingkah laku seseorang terhadap nilai yang tinggi yang terkandung dalam karya sastra.
Berdasarkan pengertian apresiasi di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku, melainkan merupakan pengertian yang di dalamnya mengisyaratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara konkret. Prilaku apresiasi sastra dapat dibedakan antara perilaku kegiatan secara langsung dan perilaku kegiatan secara tidak langsung.
Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung. Kegiatan apresiasi sastra yang dilakukan secara tidak langsung dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra, membaca artikel yang berhubungan dengan kesastraan, baik di majalah, maupun koran, mempelajari buku-buku maupun esei yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra serta mempelajari sejarah sastra.

2.Pendekatan dalam Apresiasi Sastra
Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang  sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Aminuddin (2004:40) mengemukakan bahwa “keanekaragaman pendekatan yang digunkan lebih banyak ditentukan oleh (1) tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya, (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana, dan (3) landasan teori yang digunakan dala kegiatan apresiasi.”  Pemilihan dan penentuan pendekatan tersebut tentu sangat ditentukan oleh tujuan pengapresiasi itu sendiri.
Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, maka pembaca dapat menggunakan sejumlah pendekatan meliputi:
a.       Pendekatan Parafratis
Pendekatan parafratis dikemukakan Aminuddin (2005:41) yaitu “strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan megungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat ynag berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya.” Tujuan akhir dari penggunaan pendekatan parafratis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna ynag terdapat dalam suatu cipta sastra.
Aminuddin (2004:41) mengemukakan bahwa:
 prinsip dasar dari penerapan penerapan pendekatan parafratis pada hakikatnya berangkat dari pemikiran bahwa (1) gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, (2) symbol-simbol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambing atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna, (3) kalimat-kkalimat atau baris dalam suatu cipta sastrayang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi kepada bentuk dasarnya, (4) pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolik dan elitis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan, dan (5) pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri.

Penerapan pendekatan parafratis selain untuk mempermudah upaya pemahaman makna suatu bacaan, juga digunakan untuk mempertajam, memperluas, dan melengkapi pemahaman makna yang diperoleh pembaca itu sendiri. Pendekatan parafratis selain dapat dilaksanakan pada awal kegiatan mengapresiasi sastra, juga dapat dilaksanakan setelah kegiatan apresiasi berlangsung.



b.      Pendekatan Emotif
“Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca.” (Aminuddin, 2004:42). Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu dan menarik.
Aminuddin (2004:42) juga mengemukakan bahwa
prinsip-prinsip dasar yang melatarbelakangi adanya pendekatan emotif ini adalah pandangan bahwa cipta sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. Dan dengan menggunakan pendekatan emotif inilah deharapka pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya sastra.

Pendekatan emotif ini, selain berhubungan dengan masalah keindahan yang lebih lanjut akan berhubungan dengan masalah gaya bahsa seperti metaphor, simile maupun penataan setting yang mampu menghasilkan panorama yang menarik. Penikmatan keindahan itu juga dapat berhubungan dengan penyampaian cerita, peristiwa, maupun gagasan tertentu ynag lucu dan menarik sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan kapada pembaca, lebih lanjut dapat berhubungan dengan masalah pola persajakan dan paduan bunyi yang lebih lanjut dapat mengahdirkan unsur-unsur musikalitas yang merdu dan menarik.


c.       Pendekatan Analitis
Pendekatan analitis diartikan Aminuddin (2004:44) sebagai suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen-elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kasatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.
Dinyatakan pula oleh Aminuddin (2004:44) bahwa
penerapan pendekatan analitis itu pada dasarnya akan menolong pembaca dalam upaya mengenal unsur-unsur intrinsik sastra yang secara actual telah berada dalam suatu cipta sastra dan bukan dalam rumusan-rumusan atau definisi-definisi seperti yang terdapat dalam kajian teori sastra. Selain itu, pembaca juga dapat memahami bagaimana fungsi setiap elemen cipta satra dalam rangka membangun keseluruhannya.

Dengan kata lain, pendekatan anlaitis ini adalah suatu pendekatan yang bertujuan menyusun sintesis lewat analisis. Melalui penerapan pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari bahwa cipta sastra itu pada dasarnya diwujudkan lewat kegiatan yang serius dan terencana sehingga tertanamkanlah rasa penghargaan atau sikap yang baik terhadap karya sastra.
“Kegiatan megapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analisis ini dapat dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik.” (Aminuddin, 2004:45). Pendekatan analitis dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam menerapkan pendekatan itu pembaca harus berangkat dari landasan teori tertentu , bersifat objektif dan harus mewujudkan hasil analisis yang tepat, sistematis, dan diakui kebenarannya oleh umum. Metode kerja demikian itu dapat disamakan dengan metode kerja pada linguis dalam upayanya menerapkan metode deskriptif yang bersifat eksak dalam rangka menelaah aspek kebahsaan dalam cipta sastra.
d.      Pendekatan Historis
Pendekatan historis dikemukakan Aminuddin (2004:46) sebagai suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakng peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca, serta tentang bagimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
 Aminuddin (2004:46) juga menyatakan “prinsip dasar yamng melatarbelakangi lahirnya pendekatan histories adalah anggapan bahwa cipta sastra bagaimanapun juga merupakan bagian dari zamannya.”  Pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosiosemantik sangat mengutamakan konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi atau zaman maupun konteks kehidupan pengarangnya sendiri.

e.       Pendekatan Sosiopsikologis
Aminuddin (2004:46) mengemukakan bahwa “pendekatan sosiospsikologis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial-budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.” Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini memang sering tumpang tindih dengan pendekatan histories. Akan tetapi selama masalah yang akan dibahas untuk setiap pendkatan itu dibatasi dengan jelas, maka ketumpangtindihan itu pasti dapat dihindari.
Sehubungan dengan penerapan pendekatan sosio-psikologis itu, terdapat anggapan bahwa cipta sastra merupakan kreasi manusia yang terlibat dalam kehidupan serta mamapu menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya. Sebab itulah dengan mengutip pendapat Grebestein, Sapardi Djokodamono (Aminuddin, 2004:47) mengungkapkan bahwa “karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkakn dari lingkungan atau kebudayaan.
f.       Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis dinyatakan Aminuddin (2004:47) sebagai “suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan, maupun sikap pengarang terhadap kehidupan.” Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
Aminuddin (2004:47) juga menyatakan “pendekatan didaktis pada dasarnya merupakan suatu  pendekatan yang telah berjarak jauh dari pesan tersurat yang terdapat dalam suatu cipta sastra.” Sebab itulah penerapan pendekatan didaktis dalam apresiaasi sastra akan menuntut daya kemampuan intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mapan dari pembacanya. Penerapan pendekatan didaktis dalam tingkatan pemilihan bahan yang sesuai dengan pengetahuan maupun tingkat kematangannya akan teras lebih banyak mengaasyikkan karena pembaca umumnya berusaha mencari petunjuk dan keteladanan lewat teks yang dibaca.
“Dalam pelaksanaannya, penggunaan pendekatan didaktis ini diawali dengan upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra” (Aminuddin, 2004:48). Satuan pikiran pokok itu pada dasarnya disarikan dari paparan gagasan pengarang, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan, maupun deskripsi peristiwa dari pengarang atau penyairnya.  Dalam penerapan pendekatan didaktis ini, sebagai pembimbing kegiatan berpikirnya, pembaca dapat berangkat dari pola berfikir.     
Penemuan nilai-nilai didaktis dalam cipta sastra itu bersifat interpretative. Hal itu tidak selamanya demikian karena nilai-nilai itu dapat saja tampil secara eksplisit sehingga pembaca tidak perlu berpayah-payah menafsirkannya.
Dalam pelaksanaannya, keenam pendekatan itu umumnya digunakan secara enklitik, yakni pendekatan yang satu mungkin saja digunakan secara bersamaan dengan pendekatan lain. Tujuan penerapan pendekatan secara enklitik itu adalah (1) agar pembaca tidak merasa bosan, (2) apresiasi yang hanya menekankan pada satu pendekatan saja akan memberikan informasi yang tidak lengakp atau bahkan salah, dan (3) penerapan pendekatan secara enklitik sesuai denga kompleksitas aspek maupun keragaman karakteristik cipta sastra itu sendiri. (Aminuddin, 2004:49).


3.      Tujuan Apresiasi Sastra
Seseorang mengapresisasi sastra tentu memiliki tujuan. Secara umum, tujuan mengapresiasi sastra adalah agar pembaca memiliki pengetahuan dan wawasan dari karya sastra yang diapresiasinya itu. Selain itu juga untuk lebih memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam karya itu sehingga pesan yang disampaikan pengarang dapat dipahami.

4.      Manfaat Mengapresiasi Sastra
Sebagai sesuatu yang mengandung berbagai aspek, manfaat yang diperoleh seseorang  setelah mengapresiasi atau selama mengapresiasi banyak sekali. Aminuddin (2004:60) menyatakan “lewat karya sastra seseorang dapat menambah pengetahuannya tentang kosakata dalam suatu bahasa, tentang pola kehidupan suatu masyarakat.”  Manfaat yang diperoleh sewaktu atau setelah membaca sastra dibedakan dalam dua ragam, yakni manfaat secara umum dan manfaat secara khusus.
a.         Manfaat Secara Umum
Seperti telah diketahui, masyarakat pemminat atau pembaca sastra sangat beragam. Adanya keragaman itu lebih lanjut juga menyebabkan timbulnya keragaman dalam kegiatan apresiasinya. Manfaat membaca secara umum menurut Aminuddin (2004:61) adalah manfaat mambaca sastra yang diperoleh oleh pembaca pada umumnya lewat greneralisasi.
Sehubungan dengan kompleksitas aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra, Aminuddin (2004:61) mengutip pendapat Olsen yaitu
cipta sastra sedikitnya akan mengandung tiga elemen yang diistilahkan dengan (1) aesthetic properties, yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik maupun media pemaparan ssuatu cipta sastra, (2) aesthetic dimension, berhubungan denagn dimensi kehidupan yang dikandung oleh suatu cipta sastra, dan (3) aesthetic object, berhubungan dengan kemampuan cipta sastra untuk dijadikan objek kegiatan manusia sesuai dengan keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya.

Dari pendapat itu disimpulkan bahwa cipta sastra pada dasarnya mampu  memberikan manfaat yang lebih bernilai daripada sekedar pengisi waktu luang atau pemberi hiburan.
b.      Manfaat Secara Khusus
Manfaat secara khusus diartiakn Aminuddin (2004:62) yaitu “sebagai manfaat yang dicapai oleh seorang pembaca sehubungan dengan upaya pencapaian tujuan-tujun tetentu. Selanjutnya Aminuddin (2004:62) mengemukakan,
kegiatan membaca sastra dapat memberikan manfaat (1) memberikan informasi yang berhubungan dengan pemrolehan nilai-nilai kehidupan, (2) memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia iru sendiri, (3) pembaca dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri, dan (4) mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya, sejalan dengan kadudukan sastra itu sendiri sebagai salah satu kreasi manusia yang mampu menjadi semacam peramal tentang perkebangan zaman itu sendiri di masa yang akan datang.

Pendapat Grebstein, yang dikutip Sapardi Djokodamono, dikutip lagi Aminuddin (2004:63) bahwa masyarakat yang akan mendekati karya sastra dari dua arah, yakni (1) sastra dapat disikapi sebagai  suatu kekuatan atau faktor material yang istimewa, dan (2) sastra sebagai tradisi, yakni kecenderungan-kecenderungan spiritual maupun kultural yang besifat kolektif.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa manfaat membaca sastra adalah (1) sebagai pengisi waktu luang, (2) pemberian atau pemerolehan hiburan, (3) untuk mendapatkan informasi, (4) media pengembang dan pemerkaya kehidupan, dan (5) memberikan pengetahuan nilai sosio-kultural dari zaman atau masa karya sastra itu dilahirkan.



C.   Hakikat Unsur Intrinsik
“Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.” (Burhan Nurgiyantoro, 2007:23).Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur Intrinsik dalam prosa fiksi terdiri atas lapis bentuk dan lapis makna.
1.      Lapis Bentuk dalam Prosa Fiksi
a.       Plot atau Alur
Rene Wellek (L. T. Tjahjono,1988:107) berpendapat bahwa plot itu merupakan struktur penceritaan. Sedangkan Hudson (L.T. Tjahjono, 1988:107) berpendapat bahwa plot itu merupakan rangkaian kejadian dan perbuatan, rangkaian hal yang dikerjakan atau diderit oleh tokoh dalam prosa fiksi. Sementara itu, M. Saleh Saad (L.T. Tjahjono, 1988:107) berpendapat bahwa plot itu adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab-akibat atau kausalitas, plot tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi.
 Dari beberapa pengertian tersebut penulis simpulkan, plot adalah struktur penceriataan dalam prosa fiksi yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa ynag disusun berdasarkan hukum sebab-akibat serta logis.
Plot terbentuk oleh tahapan emosional dan suasana dalam cerita. M Saleh Saad  (L.T. Tjahjono, 1988:109) mambagi tahapan dalam plot menjadi tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir. Tahapan plot terbentuk oleh satuan-satuan peristiwa. Sedangkan dalam satuan peristiwa berisi satu pokok pikiran atau satu masalah.
1)      Tahapan Permulaan
Dalam tahapan permulaan, pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya, menjelaskan tempat peristiwa itu terjadi, memperkenalkan kemungkinan peristiwa yang akan terjadi, dan sebagainya.
2)      Tahapan Pertikaian
Tahap pertikaian dimulai dengan satu tahapan yang diberi nama sebagai inciting force yakni tahapan di mana muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, pandangan, dan sebagianya yang saling bertentangan antarpara tokoh dalam cerita tertentu. Kemudian suasana ini kan berkembang dalam tahapan rising-action yakni tahapan yang menunjukkan suasana emosional yang semakin panas karena para tokoh dalam cerita tersebut mulai terlibat konflik.
3)      Tahapan Perumitan
Dalam tahapan ini nampak sekali bahwa suasana semakin panas, karena konflik semakin mendekati puncaknya. Gambaran nasib terhadap tokoh dalam cerita tersebut sudah nampak jelas pula meski belum sepenuhnya terlukis.

4)      Tahapan Puncak
Tahapan puncak atau klimaks merupakan tahapan di mana konflik itu mulai mencapai tiitk optimalnya. Dalam tahapan ini  nasib para tokoh semakin dapat dipastikan . Tahapan ini merupakan tahapan yang benar-benar menentukan nasi para tokoh dalam cerita tersebut. Peristiwa yang terjadi dalam tahapan ini yang bertindak sebagai pengubah nasib mereka.
5)      Tahapan Peleraian
Dalam tahapan ini kadar konflik mulai berkurang dan menurun. Hal semacam ini akan mengakibatkan ketegangan emosional pun ikut menyusut. Suasana panas berusaha dikembalikan pada keadaan yang wajar seperti sebelum konflik-konflik itu bermunculan.
6)      Tahapan Akhir
Tahapan akhir merupakan tahapan yang berisi ketentuan final dari segala konflik yang disajikan, merupakan kesimpulan dari segala masalah yang dipaparkan. Bila akhir cerita itu membahagiakan biasanya disebut dengan istilah denounment, bila akhir cerita itu menyedihkan disebut dengan catastrophe, sedangkan bila akhir cerita itu bersifat terbuka karena pembaca sendiri disuruh menyelesaikan cerita itu denagn imajinasinya disebut salution.


b.      Karakter dan karakterisasi
“Karakter adalah tokoh-tokoh dalam sebuah cerita, sedangkan karakterisasi adalah cara pengarang melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita yang ditulisnya,” (L.T. Tjahjono, 1988:138). Menurut M. Saleh Saad (L.T. Tjahjono, 1988:107), cara pengarang melukiskan keadaan dan watak tokoh-tokohnya dapat melalui dua jalan yaitu cara analitik dan cara dramatik.
Dengan cara analitik seorang pengarang akan menjelaskan secara langsung keadaan watak dan tokoh-tokohnya. Sedangkan dengan cara dramatik, dalam melukiskan tokoh-tokohnya tidak dengan cara menganalisis langsung, tetapi melaui hal-hal lain yakni: (1) dengan cara melukiskan reaksi tokoh lain terhadap tokoh utama, (2) dengan cara melukiskan keadaan sekitar tempat tokoh itu tinggal,  (3) dengan cara melukiskan jalan pikiran dan perasaan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut, dan (4) dengan cara melukiskan perbuatan tokoh-tokoh tersebut.
c.       Latar atau Panorama (setting)
“Latar dalam prosa fiksi merupakan tempat, waktu atau keadaan alam terjadinya suatu peristiwa,” (L.T. Tjahjono, 1988:143). Hal ini perlu dimunculkan dalam sebuah cerita karena pada dasarnya setiap perbuatan atau aktivitas manusia akan terjadi pada tempat, waktu, dan keadaaan tertentu pula.
Latar atau setting dalam prosa fiksi  dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu: (1) latar alam, di dalamnya dilukiskan perihal tempat atau lokasi peristiwa itu terjadi; (2) latar waktu, latar yang melukiskan  kapan peristiwa itu terjadi; (3) latar sosial, melukiskan dalam lingkungan sosial lingkungan mana peristiwa itu terjalin; dan (4) latar ruang, latar yang melukiskan dalam ruang ynag bagaimana peristiwa itu berlangsung.
d.      Titik kisah (Point of view)
“Titik kisah dalam prosa fiksi adalah bagaimana cara pengarang menempatkan atau memeperlakukan dirinya dalam cerita yang ditulisnya,” (L.T. Tjahjono, 1988:145). Menurut Gorys Keraf (L.T. Tjahjono, 1988:145), titik kisah ini dapat dibedakan menjadi dua pola utama yaitu:
1)      pola orang pertama
Dalam pola orang pertama, penulis tampak terlibat dalam cerita yang dikarangnya. Dalam pola semacam ini tampak sekali pengarang memperlakukan dirinya sebagai tokoh (baik tokoh utama maupun tokoh sampingan). Titik kisah semacam inilah yang disebut memakai pola orang pertama. Kata ganti yang dipakai biasanya adalah kata ganti aku, saya, dan kami.
Dlam pola pengarang orang pertama kedudukan pengarang dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu : a) pengarang  sebagai tokoh utama, b) pengarang sebagai pengamat tidak langsung, dan c) pengarang  sebagai pengamat langsung.
2)      pola orang ketiga
Pola orang ketiga secara eksplisit memakai kata ganti ia, dia atau nama orang. Dalam pola ini pengarang tidak terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa yang terjadi pad cerita tersebut. Pengarang berada jauh di luar jalinan kisah itu tidak ikut di dalam segala pola tingkah para tokoh dalam cerita yang ditulisnya.
e.       Gaya
Secara konsepsional gaya berarti cara, teknik, maupun bentuk yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menciptakan nuansa makna dan suasana yang dapat menyentuh pikiran dan perasaan pembaca.
Gaya sesungguhnya merupakan perwujudan pribadi pengarangnya sehingga masing-masing pengarang itu selalu memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan gaya pengarang yang lain. Perbedaan gaya ini dikarenakan adanya perbedaan pilihan kata dari  masing-masing pengarang, tataan kata dan kalimatnya, dan cara mengungkapkan masalah yang ditampilkan.

2.      Lapis Makna dalam Prosa Fiksi
a.       Pembayangan Peristiwa yang akan terjadi (Foreshadowing)
Suatu cerita akan menarik bila mampu menyeret pembaca untuk membayangkan peristiwa yang akan terjadi dalam cerita yang dibacanya. Agar cerita itu menarik hati pembaca memang harus dijalin dalam bahasa yang menarik, mendayagunakan pemakaian gaya bahasa secara efektif. Di samping itu penuturannyapun harus menarik. Seorang pengarang harus menyajikan tuturan itu dengan penuh variasi. Kadangkala dituturkan perihal lakuan tokoh dan latarnya, kadangkala diselingi pula dengan dialog antartokoh dan juga monolog. Dan yang lebih penting masalah yang diangkat dalam cerita itu relevan dengan saat itu.
b.      Tegangan (Suspence)
“Tegangan merupakan suasana yang diciptakan pengarang dalam karyanya sedemikian rupa, sehingga pembaca dalam suasana tegang, bertanya-tanya, dan penasaran untuk segera menyelesaikan cerita tersebut,” (L.T. Tjahjono, 1988:156). Tegangan dalam sebuah cerita mampu membuat seorang pembaca terpaku dalam cerita yang dibacanya itu. Tegangan ini bisa tercipta bila tataan kata, kalimat, pilihan kata, dan cara pengungkapannya tepat.
c.       Nada (Feeling)
L.T. Tjahjono (1988:157) memberikan pengertian “nada atau feeling dalam prosa fiksi berarti sikap pengarang terhadap masalah dan terhadap tokoh-tokoh yang ditampilkan.” Misalnya seseorang mengankat masalah cinta dalam sebuah roman. Yang dimaksud dengan nada adalah bagaimana sikap pengarang terhadap cinta itu : merasa perlu, acuh tak acuh, menganggap cinta itu agung dan kudus, atau merasa membencinya sama sekali.
d.      Suasana (Tone)
“Suasana atau tone dalam prosa fiksi adalah perasaan simpati, benci, kasihan, prihatin, sayang, dan sebagainya terhadap masalah dan tokoh-tokoh dalam sebuah cerita yang dibangkitkan pengarang dalam hati pembaca,” (L.T. Tjahjono, 1988:158). Dalam hubungannya dengan analisis prosa fiksi tone bisa membuahkan pertanyaan, “perasaan apa yabf timbul di hati pembaca setelah membaca sebuah cerita?” Jawaban dari pertanyaan itulah yang dimaksudkan dengan suasana atau tone itu.
e.       Tema (Theme)
“Tema atau theme merupakan ide dasar yang bertindak sebagai titik tolak keberangkatan pengarang dalam menyusun sebuah cerita,” (L.T. Tjahjono, 1988:158). Jadi sebelum menulis cerita, seorang pengarang harus menyiapkan tema terlebih dahulu. Karena itulah penyikapan terhadap eksistensi tema akan bertolak belakang antara pengarang dan pembaca. Kalau pengarang harus menentukan temanya lebih dahulu sebelum menulis ceritanya, namun bagi pembaca tema itu akan dapat dipahami bila pembaca itu telah membaca keseluruhan cerita dan menyimpulkannya.
Bagi pembaca, tema itu akan baru benar-benar jelas bila pembaca telah memahami satuan peristiwanya, tahapan plotnya, tokoh-tokoh dalam cerita itu dan karekterisasinya, memahami latar atau setting dan hubungan setting itu dengan masalah yang diangkat serta tokoh-tokohnya, dan memahami sikap pengarang terhadap masalah yang diangkat dalam cerita itu. Setelah itu barulah dapat mengetahui tema dalam suatu prosa fiksi.





BAB III
ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA
A.    Anlaisis Lapis Bentuk/Struktur Dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane.
1. Plot/Alur
a.  Tahapan Permulaan
Dalam novel Belenggu, tahap permulaan dimulai dengan pengenalan para tokohnya. Dokter Sukartono (Tono), seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya dan sangat giat bekerja. Dia menikah dengan seorang gadis yang sangat cantik yang bernama Sumartini (Tini). Tetapi pernikahan mereka tidak didasari dengan rasa cinta sehingga tidak ada keharmonisan dalam keluarganya. Dr. Sukartono sibuk dengan pekerjaannya, sementara Sumartini hanya menjaga telpon jika ada pasien yang meminta pertolongan kepada suaminya. Dikenalkan juga tokoh Rohayah, seorang wanita yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya dan dia menjadi wanita panggilan.
b. Tahapan Pertikaian
1) Konflik manusia melawan manusia
Konflik ini terjadi pada saat Sumartini mulai bertikai dengan Rohayah di dalam kamar otel karena Tini beranggapan bahwa Rohayah telah merebut suaminya.


2) Konflik manusia melawan batin
Tini bertaruh dengan dirinya sendiri saat dia mengetahui suaminya bermain cinta dengan wanita lain. Hati Tini merasa sangat hancur.
3) Konflik manusia dengan Tuhan
Tini hanya bisa berserah diri kepada Tuhan atas nasib yang menimpa dirinya itu. Ia menyerahkan segala hal yang harus terjadi di kemudian hari kepada sang Pencipta.
c. Tahapan Perumitan
Dimulai saat Rohayah berpura-pura sakit. Rohayah terkenal dengan sebutan Ny. Eni pada waktu itu. Karena ingin bertemu dnegan Tono, dia berpura-pura sakit dan meminta Dr. Sukartono untuk memeriksa kesehatannya. Saat itu ia tinggal di sebuh hotel dan Dr. Sukartono pun datang menemui dan memeriksa Ny. Eni.
Tidak sampai disitu saja, ternyata hubungan mereka semakin dekat. Setelah mereka semakin mengakrabkan diri satu sama lin, mulailah tumbuh perasaan cinta pada keduanya. Sebenarnya rohayah sudah mengenali Tono, karena Tono adalah temannya semasa sekolah di Mulo bahkan rohayah telah memendam perasaan pada Tono tetapi Yah tidak dapat mengungkapkannya. Tono tidak mengetahui bahawa Yah adalah temannya. Namun akhirnya Yah memberi tahu yang sesungguhnya kepada Tono. Semakin hari hubungan mereka semakin dekat, bahkan Tono sering menemui Yah langsung ke rumah Yah., sekali-sekali diajaknya Yah jalan-jalan ke pantai. Di saat itu pula hubungan antara Tono dan Tini istrinya semakin renggang. Tono semakin jarang berada di rumah. Tini tidak mengerti mengapa Tono dapat berubah secapat itu kepadanya.
d. Tahapan Klimaks
Pada tahap ini dimulai ketika Tono semakin yakin bahwa Yah dapat memberikan kasih sayang yang sesungguhnya yang selama ini tidak ia dapatkan dari istrinya sendiri. Ketika Tono merasa kahilangan keterntraman dala rumah tangganya dengan Tini dan saat ia bertengkar dengan istrinya, Tono semakin sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan tempat tinggal Yah sebagia tempat tingglnya yang kedua. Lama kelamaan hubungan Yah diketahui oleh Tini yang tak lain adalah istrinya Tono. Hati Sumartini sangat geram ketika mengetahui hubungan gelap suaminya dengan   Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Suamrtini pergi ke hotel tempat tinggal Yah. Kepergiannya itu membawa kekesalan yang mendalam kepada Yah. Dia berniat ingin mencaci maki Yah karena ia sangar kesal kepad Yah.
e. Tahapan Peleraian
Peleraian dimulai ketika Tini bertatap muka dengan Yah. Perasaan dendamnya menjadi luluh, kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagi wanita panggilan ternyata mamilki sifat yang lembut dan ramah. Tini  merasa malu pada Yah. Tini merasa bahwa selama ini dia telah banyak bersalah pada suaminya, dia tidak dapat berlaku seperti Yah, sikap Yah sangat didambakan oleh Tono dan selama ini Tini tidak bisa bersiakp seperti itu kepada Tono. Sepulangnya dari hotel, Tini mulai berintropeksi kepad dirinya sendiri. Dia sangat merasa bersalah kepada suaminya dan ia menyadari bahwa dia belum bisa menjadi istri yang baik bagi Tono. Tini merasa telah gagal menjadi seorang istri.
f. Tahapan Akhir
Tahapan akhir dari roman Belenggu ketika kebulatan tekad Tini memutuskan  untuk berpisah dengan suaminya. Pada awalnya  Tono tidak mau mengabulkan  permintaan Tini, karena apapun yang terjadi dalam rumah tangga mereka, Tono tidak mengharapkan terjadinya perceraian di antara mereka. Tono meminta maaf kepada istrinya dan berjanji untuk merubah sikapnya itu. Namun Tini menegaskan bahwa keputusannya sudah bulat. Akhirnya mereka sepakat untuk bercerai.
Hati Tono sangat sakit akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat mengetahui bahwa Yah telah meninggalkan hotelnya. Yah meninggalkan sebuah palt gramopon yang berisi suaranya sendiri sebagai lagu kenang-kenangan kepada Tono. Dalam kesepian itu Tono memusatkan pikirannya kepada kitab-kitabnya untuk memperdalam ilmu ketabibannya.
Jika dilihat dari cara pengarang mengakhiri cerita, maka roman Belenggu termasuk ke dalam plot tertutup karena berakhir denagn sebuah kepastian. Tono dan Tini akhirnya berpisah, mereka tidak dapat mempertahankan kehidupan rumah tangganya dan Yah pun pergi ke Caledonia meninggalkan Tono, orang yang dicintainya itu.

2.  Karakter dan Karakterisasi
Karakter dalam roman Belenggu karya Armijn Pane sebenarnya banyak, tetapi yang penilis analisis hanya tokoh sentralnya saja, yakni:   
a.       Dokter Sukartono (Tono): seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Dia terkenal dokter yang dermawan dan penolong. Dia termasuk seorang yang mencintai pekerjaannya. Meskipun begitu Tono tidak pernah benar-benar merasakan cinta dari istrinya selayaknya sebuah keluarga yang harmonis. Kenikmatan hidup yang bersifat privasi justru dai rasakan dari wanita lain yang bukan istrinya.
b.       Sumartini (Tini):  perempuan modern yang mempunyai masa lalu yang kelam karena bebas bergaul. Salah satu kisahnya yang memilukan adalah hubungannya yang gagal dengan kekasihnya sebelum menikah dengan Tono.Dia selalu merana, kasepian karena kesibukan suminya yang tak kenal waktu dalam mengobati orang sakit sehingga melupakan dan membiarknnya di rumah seorang sendiri.
c.       Siti Rohayah (Yah): perempuan yang harus menjalankan kawin paksa. Dia meras frustasi, sehingga terjerumus kelembah kenistaan. Dia teman Dokter Sukartono sewkatu masih sekolah di Mulo yang secara diam-diam mencintainya.
Dalam menentukan karakterisasinya itu, pengarang melukiskan tokoh-tokoh yang ditulisnya melalui cara dramatik yakni dengan melukiskan perbuatan-perbuatan tokoh. Di sana dapat diketahui dengan jelas karakterisasi para tokohnya melalui gambaran sikap dan perbuatan para tokohnya itu.

3. Latar/Panorama (Setting)
Dalam roman Belenggu yang  telah penulis analisis, terdapat 3 latar yaitu:
a.       Latar alam, peristiwa tempat kejadiannya berada di Kota Jakarta.
b.      Latar waktu, peristiwa klimaksnya terjadi pada malam hari.
c.       Latar sosial, tempat peristiwa terjadinya berada di lingkungan kaum cendikiawan yakni seorang dokter.
d.      Latar ruang, tempat peristiwa terjadinya berada di ruang tengah rumah Tono dan Tini.

4. Titik kisah (Point of view)
Dalam roman Belenggu, pengarang menggunakan sudut pandang orang ke-tiga. Pengarang menggunkan nama orang sebagai pelakunya, tidak menggunakan kata aku sebagai tokoh. Dalam arti lain, pengarang menceritakan kehidupan tokoh lain, bukan sebagai dirinya sendiri. Pengarang tidak terlibat baik secara langsung maupun tidak langung di dalam cerita itu.

5. Gaya
Gaya yang digunakan oleh Armijn Pane dalam novel Belenggu didasarkan pada cara pengungkapan masalah yang ditampilkannya. Di dalamnya banyak dijumpai pilihan kata dalam penataan kata yang istimewa.
Penggunaan gaya bahasa kuno dan masih bercampur dengan bahasa Belanda (negara yang kolonialisme di Indonesia) menmbah estetika dari novel ini. Maka tak heran banyak perbendaharaan kata  yang terdengar asing jika diucapkan  saat ini., seperti prognose, rouge, realiteit, dll.  Bagi yang tidak memahami kosakata bisa dipastikan akan sulit juga untuk memahami beberapa bagian ceritanya.
Penggunaan gaya bahasa sangat dominan dalam roman tersebut. Dalam kalimat-kalimatnya pun ada kalimat-kalimat yang panjang dan pendek selain menunjukkan adanya unsur-unsur yang istimewa , baik dalam hal pemilihan kata maupun penataan kalimat-kalimatnya. Dalam hal nuansa maknanya juga menunjukkan sesuatu yang istimewa. Misalnya
“Dia di Solo, kongres Perempuan Seumumnya.”
“Tono” kata Har, lagi berbaring, “Tono, siapa sebenarnya isterimu? Ah, Aku dulu banyak urusan, kawan-kawanku tersia-sia semua.”
“Bukan ada kukurim kartu…..”
“Boleh jadi aku kebetulan lagi propaganda ke kota lain. Kapan dia kembali, Tono, aku hendak berkenalan dengan dia.”
“Barangkali dua hari ini kongres habis.”
“Sudahkah kukenal dahulu?”
“Boleh jadi, dia dulu di Bandung, sekolah Lyceum.”
“Sekolah Lyceum, Tono?” lagu suara Hartono gembiara sedikit.
“Ya, barangkali kau kenal Tini dahulu.”
“Tini? Tini?”
“Yah, Sumartini namanya.”
“Sumartini? Tidak.”

B.     Analisis Lapis Makna dalam novel Belenggu Karya Armijn Pane.
1.      Peristiwa pembayangan yang akan terjadi (Foreshadowing)
Novel Belenggu memiliki akhir yang berubah-ubah dan tidak dapat ditebak oleh pembaca. Dapat diketahui bahwa kehidupan keluarga Tono dan Tini tidak ada keharmonisan. Rasa sayang Tono kepada Tini berubah karena Tini acuh tak acuh juga, tidak peduli kepada suaminya sehingga akhirnya Tono beralih kepada Yah yang penuh  kasih sayang kepadanya. Terlalu berlika-likunya kehidupan rumah tangga Tono dan Tini membuat sulit untuk menerka ending dari cerita. Pada akhirnya cerita ternyata juga berubah-ubah. Tono kembali sayang kepada Tini karena Tini mulai sayang kembali kepada Tono.
Malamnya Tono bertemu lagi dengan Yah, lalu dikabarkannya tentang maksud Tini itu, tentang dia menahannya, jangan dulu terus memutuskan perhubungan. Mula-mulanya Yah meras tidak segan, Tono cinta juga rupanya akan isterinya, di sama sekali tidak ingat nasib Yah. Perasaan tidak senang itu sebentar saja. Memang benar begitu. Bukan dia yang mesti tinggal tapi isteri Tono. Kalau dia sudah pergi, tono akan melupakan dia, suami isteri akan berbaik lagi. Ah, dia Cuma perempuan sambilan saja, perintang-rintang waktu.
 Dapat dipastikan Tono masih mencintai Tini sehinngga Tono tidak mungkin dapat beralih kepada Yah lagi. Akan tetapi, Yah masih seperti memberi harapan kepada Tono, Yah menyampaikan perasannya kepada Tono. “Tono, kekasihku, jiiwa hatiku, mengapa menangis, mengapa rusuh,. Kita tiada berjauhan, dekat-dekat saja Tono.”
Pembayangan di atas terjawab sudah. Akhirnya Tono dan Tini memang benar-benar berpisah. Sementara itu, Tono yang berharap Yah akan menggantikan posisi Tini pun malah pergi meninggalkan Tono walaupun sebenarnya Yah sangat mencintai Tono.



2.      Tegangan (Suspence)
Tegangan mulai muncul pada saat hubungan Tono dan Rohayah semakin dekat dan istrinya Tono yakni Tini mengetahui hubungan mereka. Hati Sumartini sanagt kecewa ketika mengetahui hubungan antara suaminya dan Yah. Sumartini ingin melabrak Yah karena ia merasa sangat kesal. Secara diam-diam, Suamrtini pergi ke hotel tempat Yah tinggal dan dia berniat untuk mencaci maki Yah karena telah mengganggu suaminya.

3.      Nada (Feeling)
Armijn Pane selaku penulis novel Belenggu membuat sebuah karya yang mampu membawa pembacanya seolah masuk dalam perasaan emosional para pelaku dalam cerita. Meskipun inti dari cerita ini hanyalah sebuah cinta segitiga, namun di dalamnya ada beberapa konflik kecil yang sebenarnya mengandung makna yang sangat mendalam, terutama bagi nagara Indonesia yang saat itu masih dalam suasana pascakemerdekaan.

4.      Suasana (Tone)
Setelah membaca novel Belenggu penulis merasa prihatin terhadap nasib salah satu tokoh yakni Sumartini. Sebagai seorang istri, tentu akan merasa sakit hati apabila suaminya berpaling kepada wanita lain. Suami yang seharusnya menjadi imam  dalam keluarga, ia malah tidak memperhatikan keluarganya karena kesibukannya sendiri.
Pada awalnya merasa kesal kepada tokoh Rohayah karena dia telah merebut kebahagiaan keluarga orang lain, sedikit demi sedikit menghancurkan keluarga yang memang sudah sedikt tidak harmonis itu. Akan tetapi, di balik semua itu Rohayah pun memiliki sikap yang lembut dan baik. Dia mau meningglkan Tono untuk kebahagiaan Tono.
Adanya rasa simpati terhadap tokoh Sukartono karena ia mempunyai solidaritas kemanusiaan yang sanagt tinggi, penolong dan sangat mencintai profesinya itu. Akan tetapi karena dia terlalu sibuk, maka dia tidak memperdulikan perasaan istrinya yang selalu kesepian.

5.      Tema (Theme)
Tema dalam novel Belengggu adalah kehidupan sosial. Novel ini mengandung kritik sosial kepada para perempuan yang masih saja memandang seseorang dari status sosialnya, seperti sikap Tini saat bertemu dengan Rohayah. Selain itu sindiran juga terlihat pada bagian Tini yang sedang digosipkan oleh teman-teman wanitanya. Seolah ingin menunjukkan bahwa masih bannyak wanita yang hobi bergunjing.
Selain itu, ada juga gambaran bahwa seorang yang berjuang demi kepentingan bangsa justru tidak dianggap menyusahkan dan tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan yang mulia.
Novel Belenggu menyimpan banyak makna yang mendalam disetiap konflik yang dimunculkan. Kritik sosial yang tajam dalam kisah ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi para generasi muda dalam menjalani kehidupan yang terhegemoni oleh sebuah sistm yang menindas dan semua itu berlaku terhadap semua orang, baik tua-muda, kaya-miskin, dan juga pria-wanita.  

C.    Analisis Unsur Intrinsik Novel Belenggu Karya Armijn Pane sebagai Suatu Alternatif Bahan Ajar Apresiasi Sastra di Sekoahan
Berdasarkan hasil analisis yang telah penulis laksanakan, novel Belenggu karya Armijn Pane dapat digunakan sebagai suatu alternatif bahan pembelajaran apresiasi sastra di Sekolahan karena dalam novel tersebut banyak terkandung  pesan-pesan moral yang sangat bermanfaat bagi pembacanya. Selain itu, novel ini pun memiliki cerita yang sangat menarik dan dapat diterima oleh pembaca. Beberapa konflik yang muncul bisa menimbulkan opini dalam masyarakat, bahwa apabila sebuah kehidupan  rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian.  Alur ceritanya pun dapat dengan mudah dicerna oleh para siswa Sekolahan sehingga apabila dijadikan bahan pembelajaran di Sekolahan, siswa pun tidak akan merasa kesulitan dalam memahami cerita tesebut.




BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan
Berbahasa merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh manusia. Salah satu kegiatan komunikasi tertulis adalah melalui kegiatan apresiasi. Kegiatan mengapresiasi sastra merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh pembaca untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra yang dibacanya.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dijelaskan bahwa pembelajaran apresiasi sangat penting karena dengan mempelajari sastra maka akan memberikan nilai yang positif bagi para pembacanya. Karya sastra yang termasuk dalam prosa fiksi salah satunya adalah roman. Roman adalah cerita yang melukiskan kronik kehidupan tokoh-tokoh yang rinci dan mendalam.
Unsur-unsur intrinsik yang diapresiasi dalam karya sastra mencakup lapis bentuk dan lapis makna yang terkandung dalam roman tersebut. Novel yang penulis analisis adalah novel Belenggu karya Armijn Pane. Novel ini menceritakan kehidupan sosial dalam lingkungan masyarakat. Di dalamnya terdapat pesan-pesan moral yang sangat berguna bagi para pembacanya. Dalam membina suatu kehidupan rumah tangga haruslah didasari dengan rasa cinta dan kasih sayang agar tercipta suatu hubungan keluarga yang harmonis.

B.     Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1.      Mahasiswa hendaknya memahami unsur-unsur intrinsik yang terdapat alam sebuah novel.
2.      Mahasiswa sebagai calon pengajar harus  dapat menentukan bahan ajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pusat Kurikulum. Departemen Pendidikan Nasional.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pane, Armjin. 1995. Belenggu. Jakarta: Dian Rakyat.

Tjahjono, L. T., 1988. Sastra Indonesia Pengantar Toeri dan Apresiasi. Flores: Nusa Indah.

Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Baru. Bandung: CV. M2S






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Don't Forget to Give Me Your Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...